Remidial
kim bum
fakeinnocent
Huuuuueeeeee...... Gue remedi sejarah.
W keseeeelllll
Keseeeellll banget!!
Soalnya tmen di sebelah w yang terang2an nyontek w kaga remed!!!! Gilaaaa!!!!!
G adddiiill gaa adiiiiiiillllll!!!!!


Curaaanggg!!!!

*tears* 

December....
kim bum
fakeinnocent
Whoooaaa....

Nggak kerasa udah bulan desember.

Salju!!! wkwk!!!

Sayang baget di Indonesia ga ada slju. Hiks!

Cuman bisa liat di tipi2, di poto2.

Musim dingin tlah tiba!!

Bentar lagi bagi rapor!

Wkwk! doain masuk 10 besar yahh... 

Doushitte? Chap 2 update..
kim bum
fakeinnocent
Nyoba-nyoba bkin fic....hope u like it.here we goes...Why Did I Fall In Love With YouMeskipun.....Aku sudah tak berada disampingmu lagi ...Aku berharap, agar kau selalu bahagiaUntuk selamanya.....Tak peduli betapa itu akan membuatku kesepian.....-ONE- Seorang gadis tampak sedang duduk di sebuah bangku kecil yang ada di taman ia menatap daun-daun yang berguguran. Sesekali ia mengembalikan pandangannya ke lembaran-lembaran buku yang ada di pangkuannya. Beberapa saat seteIah itu, seorang pria dengan postur tinggi jangkung, mata agak sipit, dan bibir tipis, tipikalI pria Asia Timur, datang. Pria itu duduk di sebeIah gadis itu. Saat melihat kedatangan si pria, si gadis tampak sengan kesal. Ia mengomel sedang si pria hanya tersenyum. Mereka berbicara dalam bahasa Korea, meskipun sedang berada di Jepang. Kedua orang itu adaIah Kim Hye Soon dan Shim Chang Min, yang bersahabat sejak mereka baru saja menjadi mahasiswa dan sama-sama berasal dari Korea. Dan tak terasa sudah 4 tahun mereka menjalin persahabatan, sebentar lagi mereka akan lulus. Dan kenyataan yang menyakitkannya adalah selama itu, Kim Hye Soon mencintai Shim Chang Min, sahabatnya sendiri. Karena takut merusak persahabatan, Hye Soon memilih berdiam diri, dan membiarkan semua kesempatan ber lalu begitu saja. Hye Soon terus mencintai Changmin tak peduli betapa itu akan membuatnya menderita.....“Hoy Hye Soon..., jangan marah donk...” sungut Changmin dengan wajah memelas. Namun Hye Soon masih mengacuhkannya. Channgmin merapatkan posisi duduknya denagn Hye Soon, entah kenapa ketika Changmin bergerak mendekatinya, ia merasa sulit bernafas dan jantungnya berdegup kencang.“Mianhaeyoo...., aku janji tidak akan telat lagi....., sekarang kita pulang yuk! Atau kau mau makan ramen di tempat paman Hiro??, ku traktir deh!” Changmin masih terus menatap kea rah Hye Soon, dan sepertinya Hye Soon luluh juga. Ia me lirik kea rah Changmin, lalu menganguk, Changmin tersenyum lebar, ia merangkul Hye Soon lalu berjalan bersama menuju kedai ramen favorit mereka.Sepanjang jalan, Changmin terus merangkul Hye Soon, seolah bersedia untuk selalu melindungi Hye Soon dari berbagai macam bahaya. Saat-saat seperti ini, justu membuat Hye Soon sedih. Ia selalu bertanya kepada dirinya sendiri ‘Mungkinkah Changmin akan terus merangkul ku seperti ini, jika dia tahu perasaanku? Mungkinkah Changmin akan terus berdiri di sampingku jika aku jujur padanya? ’. pertanyaan it uterus berkecamuk di benaknya. Saat Hye Soon akan cintanya pada Changmin.Akhirnya mereka sampai di kedai ramen paman Hiro. Paman Hiro adaah pemilik kedai, Changmin dan Hye Soon mengenalnya saat beru-baru saja berkuliah. Mereka mengenal paman Hiro, karena paman Hiro adaah orang Jepang pertama yang mereka temui dan kebetulan bisa bahasa Korea, karena mendiang istrinya adalah orang Korea. Paman Hiro ini, sudah mereka anggap seperti ayah mereka sendiri, karena sifatnya yang baik dan ramah.“Paman...! seperti biasa yah!” Kata Changmin sambil melambaikan tangannya kepada paman Hiro yang sibuk menyiapkan pesanan pelanggan lainnya di Bantu sikembar, Maru dan Haru, pelayan paman Hiro. Changmin dan Hye Soon duduk berhadapan, di pjk kedai, tempai biasa mereka duduk.“Hye Soon~a... masih marah ya?”“.huh?? tidak.., aku hanya malas bicara..”“malas??”“yeah..., aku sedang ingin menikmati musim gugur sebagai mahasisiwa.., kan sebentar lagi kita.... lulus ”Saat mengatakan kalimat terakhir, hati Hye Soon terasa nyeri. Ia sadar waktunya bersama Changmin tidak akan lama lagi. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa... hanya bisa membisu dan menderita gara-gara perasaannya sendiri, yang mungkin akan terus dipendamnya... entah sampai kapan.Changmin menatap Hye Soon lalu tersenyum, tangannya mengacak-acak rambut Hye Soon yang hitam dan tebal.‘Aku cinta kau Shim Chang Min....’ Desah Hye Soon daam hati... rasa sakitnya bertambah besar setiap saat, tapi ia hanya bisa mengucapkannya di dalam hati.“Ini dia! Ramen spesial untuk anak spesial!” Paman Hiro datang dengan membawa nampan berisi dua mangkuk super ramen. Seteah menaruh ramen di atas meja Changmin dan Hye Soon, paman Hiro bukannya langsung pergi, malah ikut duduk bergabung dengan mereka. “tidak terasa ya, sudah 4 tahun berlalu..., kalian akan lulus... hmm...” Paman Hiro menatap Changmin dan Hye Soon bergantian, tapi saat matanya mengarah pada Hye Soon, ia menatap Hye Soon lebih lama. Tiba-tiba ia menepuk bahu Hye Soon dan berkata“Mendiang istriku, pernah berkata, saat kau merasa masih punya waktu. Katakan dan lakukan apa yang ingin kau lakukan, selama itu bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik” Hye Soon mengerutkan alisnya, begitu juga Changmin, mereka saling memandang dengan tatapan tak mengerti saat paman Hir o meninggalkan mereka.‘Apa mungkin paman tahu tentang perasaan ku... pada Changmin?’’ Hye Soon bertanya daam hati***Malam semakin larut, namun Hye Soon tak juga memejamkan matanya. Ia masih duduk didepan meja belajarnya, matanya menatap ke luar jendela. Ia memandang langit yang kelam tanpa bintang, hanya bulan yang berada di sana. Sendirian... dan kesepian... sama seperti Hye Soon.Cinta memang indah..., semua rang berkata begitu. Namun bagi Hye Soon, cinta justru membuatnya menderita, kadang..., ia mengutuk dirinya sendiri yang sudah dengan lancangnya mencintai Changmin, sahabatnya sendiri. Tapi, mau bagaimana agi? Itulah cinta, dia datang seenaknya.“No saranghae... Shim Chang Min... mian...” bisik Hye Soon lirih, dan ia pun menangis..., terisak sampai dadanya terasa sesak. Ia menelungkupkan wajahnya.Hye Soon mengangkat dan menyapu air mata yang membasahi matanya. Ia beranjak dari ia beranjak dari kursi meja belajarnya, lalu berjalan keluar apartemen.Sekarang... Hye Soon sedang berdiri di depan pintu apartemen Changmin yang berada tepat di sebelah apartemennya. Sudah puku 11.07 P.M. semua penghuni sepertinya sudah tertidur, begitu juga Changmin. Hye Soon menyentuh permukaan pintu..., sambil menghela nafas wajahnya begitu sendu.Tapi, setelah menyentuh pintu apartemen Changmin, Hye Soon justru membalikkan badannya dan melangkah keluar gedung. Ternyata ia pergi ke kedai paman Hiro. Sesampainya di sana, tampak paman Hiro sudah bersiap-siap hendfak menutp kedai, sikembar Haru dan Maru pun sudah tidak ada. Paman Hiro tampak terkejut melihat kedatangannya, apalagi melihat wajah Hye Soon yang sembab karena habis menangis.“Ada apa Hye Soon~chan?” Tanya paman Hiro sambil mempersilahkan Hye Soon duduk. Hye Soon tak bicara, ia menunduk. Deru nafasnya terdengar, bahkan cepat sekali. Air matanya kembali tumpah, paman Hiro semakin bingung“Aku... aku..., mencintainya paman..., aku sangat mencintainya..., bagaimana ini...?? hu... hu... ” Ucap Hye Soon terbata karena terisak, paman Hiro memeluknya.“aku tahu... aku tahu..., semuanya terlihat dari sorot matamu. Kau mencintainya.., kau menyayanginya... bukan sebagai seorang sahabat. Tapi sebagai serang pria...” Ucap paman Hiro kalem. Hye Soon melepaskan dirinya dari pelukan paman Hiro. Ia menatap paman Hiro nanar.“Kau mencintai Changmin bukan??, kalau begitu..., katakanlah padanya...”“tidak semudah itu paman..., aku... takut dia justru akan membenciku dan menjauhiku... aku tidak mau paman... tidak mau...”“lalu...?”“biar saja perasaan ini ada..., biar saja aku mencintai Changmin tanpa sepengetahuannya...” Hye Soon bangkit, lalu membungkukkan badannya dan pamit puang pada paman Hiro. Saat ia keuar dari kedai..., ia disambut dengan tetesan air hujan, saat paman Hiro menawarkan paying, Hye Soon justru menolak, dan berjalan pulang dengan diguyur air hujan.Ketika Hye Soon ber jalan melewati sebuah taman, ia melihat sesosok pria dan seorang wanita berteduh dibawah pohon. Si pria melepaskan jaketnya dan memakaikannya ketubuh si gadis. Mereka saling merangkul. Hye Soon seperti mengenali pria itu, dia mirip Changmin.“Ah, tidak mungkin..., mana mungkin Changmin kencan selarut ini..., sudah gila kau Hye Soon... Gara-gara jatuh cinta dengan Changmin, semua pria yang kau lihat, kau sangka Changmin... ” Hye Soon menasihati dirinya sendiri, lalu kembali melangkah. Ia menggigil... giginya bergemerutuk dan tubuhnya bergetar . Hye Soon menghentikan langkahnya, Ia meringkuk kedinginan, membiarkan air hujan jatuh menubruki dirinya.Namun tiba-tiba saja, Hye Soon merasa kepaladan punggungnya tidak dijatuhi air hujan lagi..., ia pun mendongkakkan kepalanya, mengira hujan sudah reda. Tapi... yang dilihatnya malah sosok Shim Chang Min yang memayunginya.“Cha.. Changmin~a...??” Ucap Hye Soon sambil terus menggigi l“Pabo..., kenapa hujan-hujanan malam-malam begini?? Kau membiarkan pintu apartemenmu terbuka... kukira sesuatu terjadi padamu! Bikin khawatir saja!” Kata Changmin dengan nada tinggi, takut suaranya terkalahkan oleh hujan, ia mengulurkan tangannya dan membantu Hye Soon berdiri.Mereka berjalan bersama dibawah naungan payung yang meindungi mereka dari guyurang air hujan. Hye Soon berhenti menggigil, karena sekarang Changmin sedang merangkulnya.“Tadi ibumu meneleponku, katanya... kenapa kau tidak mengangkat telponnya...”“oh ya?, mmm... ponsel ku tertinggal..., kira-kira ada apa ya, ibu menelepon malam-malam begini??”“entahlah...”“Triiing.....” Ponsel Changmin berdering, ia melepaskan tangannya dari pundak Hye Soon, lalu merogoh saku celananya“Moshi-moshi” sapa Changmin sambil tersenyum“oh..., ya aku tidak papa....., kau sendiri? ....., langsung tidurya!, bye...”Hye Soon bertanya dalm hati, dengan siapa Changmin bicara barusan? Changmin tak pernah tampak sebahagia itu, saat bicara di ponsel... ***



Chapter 2...

Hye Soon tampak sedang mengepak barang-barangnya dengan terburu-buru. Ia harus kembali ke Seoul. Ayahnya jatuh sakit. Sejak tadi malam ibunya menelpon dan mengabarinya bahwa ayahnya dirawat.
Changmin tidak tahu semua ini, karena tadi ia berangkat kuliah duluan. Dan Hye Soon juga tidak ingin memberitahukannya, takut menyusahkan. Padahal hari ini adalah hari persiapan untuk Acara kelulusan di di Universitasnya. Tapi sepertinya Hye Soon sudah mengurus semuanya.


Bandara Narita.....

Hye Soon sedang bersiap menuju departure gate, karena pesawat yang akan ditumpanginya sudah tiba. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan tergesa ia membuka flap ponselnya sambil terus berjalan.
“Ya Kim Hye Soon!!! Aku mau bicara nih!, penting!” suara Changmin terdengar begitu riang.
“aduuh, nanti saja ya?, aku sedang di Bandara, ayahku sakit, dan aku harus kembali ke Seoul, bye!” Hye Soon menutup flap ponselnya. Lalu meneruskan langkah

Sementara itu ditempat Changmin berada

Shim Chang Min mengerutkan keningnya, setelah Hye Soon memutus pembicaraan. Ia memasukkan ponselnya ke saku jaketnya. Lalu melangkah menghampiri seorang gadis yang sedang tersenyum kepadanya
“Kenapa?” Gadis itu memiringkan kepalanya sambi menatap Changmin. Changmin menghela nafasnya, lalu meraih dan menggenggam tangan gadis itu. Sambil berjalan Changmin bercerita pada gadis itu, wajahnya tampak kesal.
“Hye Soon..., dia pulang ke Korea, ayahnya sakit... tapi kenapa sih, dia tidak bilang padaku, aku kan sahabatnya!”
***

Hye Soon sudah menginjakkan kakinya kembali di tempat kelahirannya, Seoul. Ia duduk termangu di dalam taksi yang ditumpanginya. Kepalanya ia sandarkan dikaca jendela. Hye Soon menutup matanya sesaat tiba-tiba ia teringat Changmin yang tadi ingin mengatakan sesuat yang penting. Hye Soon merogoh tas selempangnya mencari-cari ponselnya.
“Aish.... low bat!!” Desis Hye Soon saat menatap layar ponselnya. Ia pun kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.

Taksi pun berhenti di depan Rumah Sakit. Hye Soon memang sengaja minta langsung diantar ke Rumah Sakit. Karena sebelumnya Ibu Hye Soon mengirim pesan padanya, agar Hye Soon langsung ke Rumah Sakit saja.


Kim Hye Soon berjalan gontai menuju ift setelah menghampiri meja informasi. Saat ia hendak menekan tmb, tiba-tiba seseorang menahan pintu ift, pintu pun kembai terbuka. Ternyata seorang dokter , dengan jubah putih khas kedokteran menahan pintu itu. Ia memasukki lift, dengan tergesa sambil membenahi etak kacamatanya. Ia sempat meilrik Hye Soon lalu mengangguk, Hye S oon un balas mengangguk.
“Ngg... menjenguk kerabat ya?” Dokter bermaga Choi itu membuka percakapan
“Ya, ayahku...” Jawab Hye Soon singkat. Dokter muda itu mengangguk-nganguk sambil menyelipkan kedua tangannya kedalam saku jubah.
“Ting!” Pintu lift terbuka, Hye Soon berjalan keluar lift dokter itu juga. Hye Soon terus berjalan mencari kamar ayahnya yang dirawat.
Akhirnya ketemu. Hye Soon menghela nafasnya. Namun ia mengurungkan niatnya masuk ke dalam, saat menyadari dokter muda itu juga berdiri di tempat yang sama dengannya.
“... mau kesini juga?” Tanya Hye Soon ragu. Ia mulai berpikir kalau sepertinya dirinya salah kamar. Dokter itu menyesap bibirnya dengan alis terangkat, lalu menjawab
“ya..., pasienku di dalam. Kau putrinya Tuan Kim ya?” Hye Soon mengangguk. Merekapun memasukki kamar bersamaan.

“Appa...” Kata Hye S oon pelan sambil melangkah menghampiri ayahny ayang terbaing lemah. Ayahnya menoleh dan tersenyum. Hye S oon memeluk ayahnya, ia menangis...
“Sebaiknya..., nanti saja aku memeriksa ayahmu...” Ucap dokter Chi, tapi Hye Soon justru menggeleng, ia menghapus air matanya, lalu berbalik menatap dokter Choi. Ibu dan Adik Hye Soon tampak bingung melihat Hye Soon dan dokter Choi yang sepertinya sudah saling kenal.
“Kwenchana..., silahkan saja...” Ucap Hye Soon sambil tersenyum tipis, lalu beralih mendekati ibu dan adiknya.

“Kalian saling kenal?” Tanya ibu Hye Soon, ia menatap dokter Choi yang sedang memeriksa ayah Hye Soon denga tatapan ingin tahu. Karena dokter Choi sibuk, justru Hye Soon yang menjawab
“kami bertemu di lift” Jawab Hye Soon singkat, dokter Choi tersenyum ia melepaskan stetskpnya, lalu berkata
“Ah, kita belum berkenalan... namaku Choi Shi Won” dokter Choi memperkenalkan dirinya sambil tersenyum, ia mengulurkan tangannya pada Hye Soon.
“aku Kim Hye Soon, annyong haseo” Hye Soon menjabat tangan dokter Choi sambil menundukkan kepalanya.
“ah, maaf, aku harus memeriksa pasien yang lainnya, sampai jumpa” Pamit Dokter Choi sambil menundukkan kepalanya.


“Onni..., kau beruntung sekali...” Ucap Hye Won, adik perempuan Hye Soon. Ia menatap iri tangan kanan Hye Soon yang tadi menjabat tangan dokter Choi. Hye Soon mengangkat alisnya
“waeyo?” Tanya Hye Soon tak mengerti. Hye Won menatapnya sebal, lalu menarik Hye Soon agar duduk di sebelahnya
“onni..., dokter Choi itu..., idola disini..., dia terkenal dingin dan misterius..., banyak yang terpesona dengannya, termasuk aku” Hye Won bercerita panjang lebar kepada kakak satu-satunya itu sambi l merangkul bahunya.
“lalu..., apa hubungannya dengan ku?” Hye Soon masih tak mengerti
“aduuh..., biasanya dia itu tidak pernah seramah itu denagn orang lain!, apalagi dengan wanita!”
“”aah, sudah ah, aku lelah nih. Aku kesini bukan untukcari suami, aku kan mau jenguk appa...!”
Hye Soon melepaskan tangan Hye Won yang menggantung di pundaknya. Lalu melangkah mendekati ayahnya.



-Tokyo-

Shim Chang Min sedang mendribble bola basket, dan bersiap memasukkannya ke ring. Ia bermain basket seorang diri di lapangan basket diseberang gedung tempat tinggalnya. Biasanya ia bermain bersama Hye Soon, tapi karena sekarang Hye Soon sedang tidak ada, jadilah dia bermain sendiri. Langit mulai gelap, Changmin berhenti. Ia duduk dengan kaki diselonjorkan, lalu menyandarkan kepalanya yang mengenakan tpi kupluk ke tiang ring, tubuhnya basah oleh keringat.
Tba-tiba, ia merindukan sosok Hye Soon, yang selalu duduk disampingnya selesai bermain, dan menyodorkan sebotol air mineral. Changmin menatap langit yang berwarna oranye keemasan.
‘Anak bodoh itu..., tiba dengan selamat tidak ya? ‘ Tanya Changmin dalam hati, ia tersenyum tiba-tiba seseorang melangkah mendekati Changmin, dan duduk disebelahnya. Ternyata paman Hiro.
“oh, paman..., ada apa?” Changmin bertanya sambil membenahi posisi duduknya Paman Hiro tersenyum hangat, tapi tiba-tiba senyum itu hilang, Paman Hiro tampak baru menyadari sesuatu
“Hye Soon mana?”
Changmin menghela nafas, lalu menjawab
“pulang..., ayahnya sakit...”
Paman Hiro mengangkat alisnya, lalu menjawab
“mendadak ya? ...”
“begitulah!, dia kan harusnya memberitahuku, supaya aku bisa mengantarnya sampai Bandara..., dia piker aku ini apa??, peliharaan?, akukan sahabatnya!”
“hmm..., mungkin dia tidak ingin menyusahkanmu..., eh ngomong-ngomong, setelah lulus kuliah, apa kau akan kembali ke Korea?” Wajah Changmin yang tadinya masam, berubah cerah. Ia tersipu malu, sambil melirik paman Hiro yang sedang menatapnya bingung
“aku.. sebenarnya..., sudah bertunangan..., dan rencananya, setelah lulus..., aku akan menikah...” Terang Chagmin dengan mata berbinar. Paman Hiro tampak tak percaya namun ia berusaha menyembunyikannya
“Hye Soon... sudah tau...?”
“belum..., aku ingin membuat kejutan! Setelah acara Kelulusan, aku akan memberi tahunya”
Paman Hiro tersenyum perih. Ia teringat Hye Soon yang diam-diam mencintai Changmin. Ia memikirkan bagaiman perasaan dan ekspresi gadis yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri itu, jika mengetahui kenyataan ini. Shim Chang Min sudah bertunangan dan akan segera menikah. Sementara Changmin yang tidak tahu apa-apa, dengan mudahnya berkata, ia ingin memberikan kejutang pada Hye Soon yang selama 4 tahun ini mencintainya dengan separuh hati tanpa sepengetahuannya.
“ah, sudah malam... aku pulang dulu ya!” Pamit paman Hiro sambil menepuk pundak Changmin. Lalu melangkah pergi, Changmin hanya mengangguk dan beberapa saat setelah paman Hiro pergi, Ia pun bangkit dan kembali ke apartemennya.



-Seoul-

Hye Soon sedang berjalan menuju lift, ia bermaksud pulang kerumahnya, karena ingin mandi dan berganti pakaian. Tiba-tiba saja seseorang memanggil namanya, ia pun menghentikan langkahnya
“Hai... Hye Soon“ Ternyata orang itu dokter Choi, sepertinya ia juga sedang bersiap ingin pulang, karena ia sudah tak mengenakan jubah dokternya lagi, melainkan kemeja lenagn panjang biru safir. Ia tersenyum pada Hye Soon
“oh, dokter Choi...” mereka memasukki lift yang kosong itu dan mulai berbincang.
***

Entah mengapa sejak pertama kali bertemu Kim Hye Soon di lift, ia merasa ada sesuatu yang aneh melandanya. Biasanya, ia tak pernah tertarik untuk mengajak bicara orang lain, apalagi yang tidak dikenalnya. Tapi saat mata Choi Shi Won menatap Hye Soon yang kelelahan dan agak berantakkan tak bisa menahan untuk tersentum dan akhirnya bicara pada gadis yang lebih muda 3 tahun darinya itu.
“Jadi kau sekolah di Jepang...” Ucap Shiwon sambil mengangguk-nganguk tanpa menatap Hye Soon.
“yeah..., tapi sebentar lagi akan lulus...” Jawab Hye Soon datar. Wajahnya berubah murung, setiap mengucapkan kata ‘lulus’, dadanya terasa nyeri, sadar akan segera terpisah dengan Changmin, dan perasaannya yang belum tersampaikan. Mengingat semua itu, membuat luka di dasar hatinya semakin membesar.
“Ting!”
Pintu lift terbuka, Hye Soon melangkah duluan, diiringi dokter Choi. Tatapan Hye Soon kosong, tiba-tiba ia teringat Shim Chang Min. Hye Soon terus berjalan, tak memperdulikan Choi Shi Won yang dari tadi memanggil–manggil namanya.
“Kim Hye Soon!” Setelah Choi Shi Won mengucapkan nama Hye Soon untuk yang kelima kalinya, barulah Hye Soon tersadar. Ia tersentak sesaat lalu menoleh kearah Choi Shi Won.
“ne...?”Hye Soon mengangkat alisnya. Separuh otaknya masih menyimpan pikirn tentang Changmin.
“ngg..., sampai... ketemu lagi...” Kata Shiwon ramah sambil tersenyum, lalu mengangguk dan berjalan cepat menuju parkiran. Tapi belum separuh jalan, dokter muda itu membalikkan badannya
“kau... bisa pulang sendiri kan?” Tanyanya memastikan. Hye Soon mengangguk cepat. Choi Shi Won menggerakkan kepalanya sambil menyesap bibir, lalu berbalik dan meneruskan langkah.


Hye Soon menatap sekeliling, ia baru sadar kalau sekarang ia sudah berada di luar rumah sakit, dan ternyata hari sudah malam. Kim Hye Soon membenahi letak tali tasnya yang menyelempang di pundaknya, lalu merapatkan jaketnya. Ia mempercepat langkahnya, karena taksi yang tadi disetopnya sudah ada dihadapan.
*

“Akhirnya tiba juga dirumah” Desah Hye Soon sambil mengganti sepatunya dengan selop rumah bermotif kotak-kotak berwarna merah.Ia melangkah lebih dalam, matanya menjelajah kesetiap sudut rumah. Tak ada yang berubah, batinnya. Ia melangkah menaiki tangga ke lantai dua, tempat dimana kamarnya berada.
“Hwaaah.....” Hye Soon menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan matanya, namun tiba-tiba ia teringat akan ponselnnya yang belum di charge.



-Tokyo-

Shim Chang Min duduk bersila di atas sofa sambil menonton televise yang saat itu sedang menyiarkan siaran pertandingan baseball. Sebenarnya ia tak begitu suka baseball, tapi karena hanya ini acara yang ‘lumayan’ dari pada harus menonton dorama atau acara infotaiment.
Sesekali Changmin menyeruput ‘cup noodle’nya yang sudah dijepitnya dengan sumpit. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara dentingan dari ponselnya yang ada diatas meja kecil dihadapannya. Changmin melirik ponselnya lalu meraihnya dengan malas.


Sebuah pesan. . . . .
Dari Hye Soon. . . . .


From : Hye Soon~
.../.../...
20.27

Changmin~a..., mian.
Saat itu langsung memutus telponmu.
Beterai ponselku tadi habis,
makanya tidak bisa balas menelponmu.
Aku sudah tiba di Seoul sejak tadi sore.
Kau sudah makan?


Changmin meletakkan cup noodlenya diatas meja, dan memfokuskan diri pada ponselnya. Mendadak wajahnya berubah kesa.l Ia terus menggerakkan ibu jarinya untuk menulis pesan balasan.


To : Hye Soon~
.../.../...
20.29

Ya! Kau jahat!
Kenapa tidak mengabariku saat kau mau kembali ke Seoul?,
aku kan bisa mengantarmu ke bandara. Kau anggap
aku ini apa Kim Hye Soon!! Padahal ada hal penting
yang harus ku katakan padamu.
sangat penting...
tentang kebahagianku...



Changmin menekan tombol ‘send’ lalu menutup flap ponselnya dan melemparnya sembarangan keatas meja. Ia pun kembali melahap cup noodlenya denagn cepat. Sampai terdengar bunyi ‘sruuut’.


-Seoul-

Hye Soon baru saja selesai mengeringkan rambutnya saat ponselnya berdering tanda sebuah pesan masuk. Sambil terus menggosokkan handuk kerambutnya yang masih agak basah, ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja rias. Matanya nyaris tak berkedip saat membaca pesan dari Changmin. Terutama kalimat terakhir pada pesan itu, “sangat penting....., tentang kebahagianku.....”, Shim Chang Min ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting... dan menyangkut kebahagiannya??, apa itu?, apa maksudnya?. Hye Soon bertanya pada dirinya sendiri. Ia menempelkan layer ponselnya ke dagu. Alisnya berkerut.
“Hoaahm.....” Hye Soon menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Lalu melangkah mendekati kasurnya.
***

Hye Soon membuka matanya, ia agak kaget saat pertama kali membuka matanya, ia berada ditempat yang bukan apartemennya. Namun ia justru tersenyum sesaat, ketika sadar bahwa dia sedang ada di Seoul, dan tepatnya berada dirumahnya sendiri.
Setelah merenggangkan kedua tangannya sambil menguap, Hye Soon beranjak dari kasurnya dan melangkah menuju jendela kamarny, lalu menyibak tirai yang berwarna krim itu. Seketika cahaya matahari masuk menembus kaca jendela.


-Tokyo-

Shim Chang Min sedang berdiri menyandar didinding kamarnya, menghadap jendela Matanya menatap langit yang berwarna putih bersih. Tangan kanannya memegang secangkir kopi hangat. Tiba-tiba ia merasa menyesal karena tadi malam sudah marah-marah dangan Hye Soon. Padahal seharusnya ia menyampaikan simpatinya karena sahabatnya sedang berduka sebab ayahnya sakit.
“Duk” Changmin menghentakkan belakang kepalanya pelan kedinding, dengan mata terpejam, ia tampak begitu menyesal.
“Kau tidak berperasaan Changmin, seharusnya kau bisa mengucapkan sesuatu yang lebih baik. Yang bisa membuatnya tenang, bukan mengomelinya..., pabo” omel Changmin pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ponselnya berdering.

Hye Soon ~ calling

“Yoboseyo?” Sapa Changmin setelah menaruh cangkir kopinya diatas meja belajar. Ia mendudukkan diri di atas kasur.
“ohayouoo.. Changmin~a..”
“ohayou.., ada apa Hye Soon?”
***


-Seoul-

Denagn flap ponsel tertempel di telenga, Hye Soon masih berdiri terpaku menghadap jendela kamarnya yang ditembus cahaya matahari di pagi itu. Ia menghela nafasnya, lalu mulai bicara.
“mian...” Desah Hye Soon
“mian apa...?”
Karena sangat mencintaimu
“karena tidak memberitahumu, saat pulang kesini”
“ oh, kwenchana..., sudahah. Aku juga minta maaf, seharusnya aku tidak... ngg kau tahuah... ngomong-ngomong bagaimana ayahmu?”
“yah, lumayan..., dia Cuma keleahan... dan butuh istirahat, aku rasa sebentar lagi dia akan kembali kerumah”
“oh syukurlah..., eh Hye Soon aku rindu padamu nih... sepertinya aku sudah terbiasa selau melihatmu didekatku. Makanya, saat kau tidak ada, rasanya ada yang kurang. Haha...”
Hye Soon tak menjawab, ia hampir melepaskan ponsel dari dari genggamannya. Shim Changmin merindukannya.... kalimat itu membuat sistem pernafasannya terganggu. Saat Hye Soon membuka mulutnya, hendak berbicara, tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya.
“Onni~a. . . .” Tampak sosok Hye Won dari balik pintu, ia menatap Hye Soon. Hye Soon mengangkat sebealh tangannya, mengisyaratkan Hye Won untuk menunggunya.
“Umm... Changmin~a, sudah dulu ya..., annyeong!!”
Setelah menutup flap ponselnya, Hye Soo bergegas menghampiri adiknya yang sedang duduk di atas kasurnya
“ada apa??, eh, kapan pulang?, kukira kau menginap di rumah sakit...”
“aku memang menginap, ini baru pulang..., eh onni... ayo turun, aku tadi beli sarapan untukmu”


-Tokyo-

“Changmin-kun” Seorang gadis berambut ikal kecoklatan dengan panjang sebahu menggunakan blaser berwarna violet serta skinny jeans biru tua sedang berlari menghampiri Changmin yang sedang duduk sendiri di bangku taman.
Gadis itu. . . adalah Kyoko Minami. . . tunangan Changmin. Dirinya dan Changmin pertama kali bertemu saat musim gugur tahun lalu di stasiun kereta api. Changmin sangat mencintai gadis ini, saking cintanya, dia sampai tak bisa menyadari kalau ada orang lain yang juga mencintainya.
Kyoko duduk di samping Changmin, ia mendongkakkan kepalanya menatap daun-daun yang berjatuhan kala itu. Diam-diam Changmin menatapnya lalu mengelus lembut rambut Kyoko Kyoko tersentak, ia pun mengalihkan tatapannya ke Changmin.
“kenapa?” Tanya Kyoko denagn alis terangkat. Changmin masih mengelus rambutnya.
“K yoko-chan. . ., kau adalah hal terindah yang pernah ada dan terjadi dalam hidupku. . .” Ucap Changmin sungguh-sungguh. Kyoko tersenyum denagn kedua pipinya yang bersemu merah. Ia memeluk lengan Changmin, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Changmin. Changmin pun balas menyandarkan. Sungguh pemandangan yang indah. . .




-Seoul-

Hye Soon baru saja selesai mandi setelah menyelesaikan sarapannya. Kini ia sudah berpakaian rapid an bersiap hendak kerumah sakit dengan Hye Won adiknya. Tapi. . ., saat ia dan adiknya membuk pintu depan. . .

“Mwo??” Hye Won terperangah saat melihat ayah dan ibunya ada dibalik pintu. Hye Soon tak kalah kaget. Ia menatap ayahnya yang tadi malam terbaring lemah di rumah sakit, namun sekarang sudah berdiri tegap dihadapannya sambil tersenyum Ia tak tampak seperti baru pulang dari rumah sakit, malah lebih tepatnya seperti baru mengakhiri liburan panjang.
“Ayah sudah sembuh!” Ucap Tuan Kim lantang Lalu melangkah masuk, menyeruak kedua putrinya yang masih terpaku.
***

Sekarang, Hye Soon bersama keluarganya sedang duduk berkumpul diruang keluarga sambil menonton televisi. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa rindu dengan suasana seperti ini, rasanya sudah lama ia tidak berkumpul dan berada di tengah-tengah keluarganya seperti ini. Jelas saja, selam ini ia berada jauh di Jepang, dan satu-satunya orang terdekat Hye Soon adalah Changmin dan paman Hiro.
“Dokter bilang, ayah hanya kelelahan, jagi kalau pulang hari ini juga tidak apa-apa” Terang ayah Hye Soon sambil sesekali memijat pundaknya. Ib uHye Soon yang ada disampingnya hanya mengangguk sambil tersenyum. Hye Soon dan Hye Won masih saling pandang lalu mengangkat pundak. Mereka baru ingat kalau ayah mereka, tipe orang yang tidak suka berdiam diri.
“kalian tidak senang ayah sembuh?” Ibu Hye Soon menatap tajam kedua putrinya. Serentak dua bersaudara yang hanya berjarak 2 tahun itu menjawab bersamaan
“anio!!, bukan begitu”
Mereka semua tertawa bersama. sesaat Hye Soon bisa melupakan rasa sakit didasar hatinya. Ia benar-benar bahagia bisa berkumpul lagi ditengah-tengah keluarganya. Meskipun cuma sebentar , karena besok hari ia sudah harus kembali ke Tokyo.
***
Hye Soon sedang berjalan sendiri, menikmati sore hari terakhirnya di Seoul. Ia membelokkan langkahnya kesebuah took buku.
“Kim Hye Soon. . .” Seseorang memanggil Hye Soon, saat ia sedang melihat lihat buku yang tersusun rapi di rak Ia membalikkan badannya dan terlihat dokter Choi yang mengenakkan kaus lengan panjang dan celana jins sedang tersenyum padanya Ia ter lihat lebih santai. Kalau berpakaian seperti itu, tak ada yang tahu kalau dirinya seorang dokter. Sambil membenahi letak kacamatanya, dokter Choi menghampiri Hye Soon.
“senang bertemu lagi. . .” Ucap dokter Choi sambil lagi-lagi tersenyum Hye Soon mengangguk pelan Merekapun mulai mengobrol.

“Ayahmu orang yang menakjubkan, tak pernah kutemui orang seperti dia”
“hmmh, aboji memang begitu. . ., sebenarnya dia tak perna suka rumah sakit. . .”
“yaah, aku bisa melihatnya, setiap hari dia bertanya kapan boleh pulang. Mmm. . . ngomong-ngomong kapan kau kembali ke Jepang?”
“besok”
“ooh, bicara tentang Jepang, aku juga punya kerabat disana. . ., kakak ipar lebih tepatnya Dia menikah dengan almarhum kakakku”
“almarhum??”
“yeah. . ., 2 tahun yang lalu, noona meninggal karena kanker. . .”

Choi Shi Won terdiam. Ia sadar sudah menceritakkan masalah pribadinya. Padahal dia tak pernah tertarik menceritakkan apapun tentang dirinya pada orang lain, terebih yang baru dikenalnya.

“Biar aku yang bayar. . .” kata Shiwon, saat dirinya dan Hye Soon tiba di meja kasir. Hye Soon berusaha menolak, namun akhirnya argument seorang dokter mengalahkannya. Ia pun mengalah dan lagi-lagi kalah argument saat Choi Shi Won bersikeras ingin memberikannya tumpangan.

“Kamsahamnida. . .” Ucap Hye Soon sopan sambil membungkukkan badanya, saat dokter Choi mengantarnya sampai rumah. Choi Shi Won hanya menyesap bibirnya, lalu berkata
“semoga kita bisa bertemu lagi. . .”
***
Hye Soon duduk termangu diatas kasurnya. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan piyama bermotif polkadot berwarna biru muda. Ia kembali teringat dengan sahabatnya, Shim Chang Min. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Changmin.
“Yoboseyo. . .” terdengar suara lembut Changmin menyapa Hye Soon dari seberang. Ada ketenangan dibatin Hye S oon saat mendenagar suara sahabatnya itu.
“Cha. . . Changmin~a. . .”
“ne Hye Soon. . . ada apa?”
Aku merindukanmu
“tidak ada. . ., hanya ingin menelponmu. . ., kau sibuk?”
“tidak. . .”
“aku ingin mengatakkan sesuat. . .”
“ya, katakana saja. . .”
“Shim Chang Min. . . aku. . .”
mencintaimu. . . sungguh mencintaimu. . . apakah kau marah jika aku mencintaimu??
“apa Hye Soon. . .?
Aku mencintaimu. . .
“Hye Soon, yoboseo?”
Maaf. . . aku mencintaimu. . ., apakah kau menyadarinya? . . .
“Kim Hye Soon, kau masih disana?”
Shim Chang Min. . . saranghaesso. . . mian, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. . .
Pipi Hye Soon basah oleh air mata, namun ia terus berusaha agar isakan tangisnya tak terdengar, ia menelan ludah berkali-kali, dadanya terasa sesak. Flap ponselnya masih menempel di telinga.

“aku. . . besok akan kembali ke Tokyo. . .” Hye Soon menutup flap ponselnya lalu membenamkan wajahnya ke bantal.

****

Udahan ah, segitu dulu~~
wekekee

?

Log in